Kamis, 23 Agustus 2018

ASAL USUL PROCOT



SEKILAS KISAH PROCOT BERDASARKAN CERITA ORANG TUA DULU DAN SEJARAH

JAKA SENTANU / R.SENTANU ( KI DIPOKUSUMO )
Salah satu situs terkenal di Lebaksiu adalah Candi Keberkahan. Dalam kawasan Candi Keberkahan terdapat salah satu Tokoh Mataram yang pada jamannya sangat disegani yaitu Tumenggung Bahureksa dan Adipati Dipokusumo (Jaka Sentanu atau Raden Sentanu). Beliau memang tidak berkaitan banyak dengan tlatah Tegal, namun kiprahnya pada masa penyerangan Sultan Agung ke Batavia, bersama-sama dengan Kyai Rangga (adiknya, yang kemudian menjadi Tumenggung Tegal bergelar Adipati Martoloyo) sangat besar.
Selain itu pula kisah Adipati Dipokusumo yang sempat tlatah Tegal yang menurut cerita para pendahulu sebagai pertama yang singgah di tempat yang sekarang ini disebut daerah “Procot”.
Dalam buku Babad Tanah Jawi diterangkan bahwa: Ki Ageng Selo mempunyai anak enam putri dan satu orang putra, namanya Ki Ageng Ngenis, berputera Ki Ageng Pemanahan, berputera Raden Pangeran Bagus, yang tidak lain Sutowijoyo, Panembahan Senopati. Bila Catatan Hermannus Johannes de Graaf yang mereferensi dari buku Babad Tanah Jawi itu benar, maka Jaka Bahu atau Tumenggung Bahurekso adalah masih ada hubungan keluarga menyamping trah Mataram. Dengan kata lain Bahurekso memang bangsawan Mataram, hanya saja ia berasal dari pihak ibu. Ada yang mangatakan, Jaka Bahu sebutan lainnya adalah Ki Bahu, adalah sahabat dekat atau orang yang dipercaya oleh Pangeran Benowo. Jaka Bahu lah yang mendampingi Pangeran Benowo mulai dari Pajang, kemudian pindah ke Jipang dan selanjutnya mengembara hingga ke Kendal dan Parakan. Oleh Sunan atau Pangeran Benowo, Ki Bahu diserahkan pada Panembahan Senopati di Mataram sebagai ganti atau wakil dan atas nama Pangeran Benowo. Bila Panembahan Senopati ada keperluan dengannya, maka Ki Bahu lah yang menjadi wakilnya, karena memang nenek moyang Ki Bahu masih ada hubungannya dengan nenek moyang Mataram. Dengan demikian kedekatan Ki Bahu dengan Pangeran Benowo itu lebih berdasar pada kesinambungan hubungan erat nenek moyangnya, yaitu antara Ki Ageng Ngerang dengan Ki Ageng Pengging. Baik Ki Ageng Cempaluk ataupun Jaka Bahu memiliki hubungan sangat dekat dengan Panembahan Senopati Ing Alogo Sayidin Panotogomo Sultan Mataram Sutowijoyo maupun Mahapatih Mataram. Ki Mondoroko, nama kebesaran Ki Juru Martani. Karena darma baktinya kepada kerajaan yang besar dan usianya yang cukup tua, Ki Ageng cempaluk diberikan tanah perdekan/perdikan (otonomi) di wilayah Kesesi, sekarang masuk Kabupaten Pekalongan. Hidup bersama dua anaknya, Joko Bahu dan seorang lagi sebagai anak angkatnya Anjarwati, dirasakan sebagai anugrah dari Tuhan yang Mahakuasa. Di padepokan itulah ia menghabiskan masa tuanya dengan penuh syukur pada Tuhan. Namun sebagai orang yang telah diberi penghargaan, Ki Ageng cempaluk tetap mencurahkan pikirannya dan sisa-sisa tenaganya untuk Mataram. Sebagai seorang prajurit yang hidup di dua masa, yaitu masa kerajaan Pajang dan Mataram, dan dikenal sebagai prajurit yang mumpuni dalam bidang kanuragan dan ketataprajaan. Sehingga ia memiliki pewaris yang bisa melanjutkan pengabdiannya pada kerajaan.
Dituturkan, bahwa penguasa Kadipaten Kleyangangan (Sekarang Kecamatan Subah, Batang), Adipati - Pengalasan/Pemajegan - Tumenggung Dipokusumo, berencana meluaskan wilayah kadipatennya ke arah timur, dengan membuka alas roban, untuk areal pertanian dan pemukiman. Adipati Dipokusumo, sadar bahwa membuka alas (hutan) bukan pekerjaan yang mudah dan disadari termasuk pekerjaan yang keras.
Sebuah tugas yang sangat keras dan penuh resiko, maka ia meminta bantuan Ki Ageng Cempaluk yang terkenal sakti. Karena usia yang mendekati udzur, maka tugas itu diserahkan pada puteranya, yaitu Jaka Bahu. Dengan tetap didampingi oleh Adipati Tumenggung Dipokusumo, tugas membuat persawahan dan pemukiman dengan membuka alas (Babat Wono Roban) dilaksanakan dengan baik oleh Jaka Bahu. Atas keberhasilannya itu, pada akhirnya Jaka Bahu menjadi kepercayaa Adipati Dipokusumo, yang tentu saja keberhasilan itu dilaporkan pada Sultan Agung Hanyokrokusumo. (dalam Buku Bahurekso Tapa, ada nama Jaka Sentanu/R.Sentanu - yang kemungkinannya satu nama dengan Ki Dipokusumo).
Berhasil membuka hutan Roban tersebut, Sultan Agung menginginkan ada penambahan areal persawahan dan pemukiman, dengan cara membuka hutan hutan (alas) Gambiran, sebuah hutan di sebelah barat Kleyangan, yang lebih gawat daripada Roban. Dengan menelusuri sungai Sambong yang lebar dan memanjang dari selatan ke utara, dan selanjutnya menjadi prioritas dan sasaran pertama yang harus dikerjakan. Dimulai dengan membuat bendungan di sungai itu. Dan keberhasilannya membuka hutan Gambiran ini merupakan kado persembahan terhadap tahun pertama pemerintahan Sultan Agung (1613). Pada akhirnya Sultan Agung mengutus putera Mataram, Ki Mandurorejo, untuk menata kembali daerah Kleyangan sepeninggal Ki Dipokusumo ( Jaka Sentanu / R.Sentanu).
Pangeran Benowo pergi dari Pajang ke tanah suci Mekkah. Sepulang dari tanah suci singgah di Aceh, Bahureksa ikut bergabung. Pangeran Benowo meneruskan perjalanan ke Sedayu ikut bergabung Tumenggung Anggabaya, Ki Wiro dan Kyai Rangga. Pangeran Benowo dan empat sahabatnya meneruskan perjalanan ke Kendal, Parakan dan di Dieng. Di Dieng, Pangeran Benowo bertemu saudaranya Ki Gede Sebayu, keduanya sepakat akan kembali ke Lebaksiu [dareah di Kab. Tegal]. Akhirnya beliau berdua kembali ke Lebaksiu, tempat pertemuannya diberi nama Keberkahan. Ki Gede Sebayu menjadi demang dan Pangeran Benawa menjadi pemimpin di bagian utara sampai Pemalang. Bahureksa berasal dari Aceh keturunan Raja Perlak dan Tumenggung Anggabaya, Kyai Rangga adalah saudara Bahureksa. Menurut Mbah Sead [Bahureksa ke-9] perjalanan Pangeran Benawa dari Pajang ke tanah suci Mekah kemudian ke Sedayu diteruskan ke Kendal, Dieng kemudian Lebaksiu ditulis ke dalam tiga buku, Belanda mengambil satu buku yang disimpan di museum Leiden Belanda.
Dengan melihat sejarah itu kemungkinan Ki Dipokusumo (Jaka Sentanu / R.Sentanu) ikut bersama Ki Gede Sebayu. Yang kemudian beliau ingin kembali ke Kleyangan tempat beliau pertama mengemban tugas untuk melaporkan keadaan dan situasi waktu itu ke Sultan Agung. Ki Dipokusumo (Jaka Sentanu / R.Sentanu) bertolak dari Lebaksiu menuju Kleyangan. Ketika sampai melewati suatu daerah yang banyak pohon jambe dan ringin beliau berhenti untuk mencari tempat peristirahatan. Saat itu beliau mengendarai kuda kesayangannya sudah dalam keadaan kelelahan mencari tempat untuk istirahat beliau, tiba-tiba beliau terjatuh dari kudanya “mrosot” karena ada daun jambe yang jatuh hampir menimpa beliau. Dan akhirnya di tempat itulah beliau dan rombongan beristirahat. Saat beristirahat inilah sang kuda kesayangan beliau yang selalu menemaninya pergi jatuh sakit dan mati. Yang akhirnya kuda beliau dikubur ditempat beliau beristirahat.
Dan tempat peristirahatan yang disebutkan tadi itulah yang kemudian menjadi  nama “Procot”. Ada orang tua dulu menceritakan bahwa kata Procot berasal dari jatuhnya “mrosot” nya beliau dari kudanya yang karena latahnya orang menyebutnya procot, ada juga yang mengatakan Procot berasal dari daun jambe yang namanya “procot/dedel” yang hampir menimpa beliau saat melintas daerah tersebut..
Dan tempat yang di Procot adalah tapak tilas beliau saat istirahat, makam/kuburan yang ada itu adalah kuda beliau yang mati. Dan kuburan/makam yang ada itu adalah ada salahsatu pengikut bliau yang dimakamkan disitu.

Wallahu a’lam bishshawab

Alfaqir Guntur AD Al Anggawi Al Jawi

Minggu, 01 April 2018

PROFIL MADRASAH MIFTAHUL ULUM SUMURPANGGANG – KOTA TEGAL





 




    
 
       MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH AWALIYAH      
     MIFTAHUL ULUM
Jl. Banyuwangi Rt. 08/ I Pangset, Kelurahan Sumurpanggang
Kecamatan Margadana Kota Tegal


  
PROFIL MADRASAH MIFTAHUL ULUM
SUMURPANGGANG – KOTA TEGAL
--------------------------------------------------------

  1.  IDENTITAS MADRASAH / PENDIDIKAN MADRASAH

Nama Madrasah Diniyah        : MIFTAHUL ULUM
Nomor Telepon                       : HP. 0815 4805 3580
A l a m a t                               : Jl. Banyuwangi RT. 08 RW. I Sumurpanggang
Kecamatan                              : Margadana Kota Tegal
K o t a                                     : T e g a l,      Kode Pos :  52141
Propinsi                                   : Jawa Tengah
No. Statistik (Piagam)             : 311233760049 33 76 04
Tahun Berdiri                          : 1967

      B.   PROSES BELAJAR MENGAJAR

Waktu belajar                          :   Sore hari ( 14.00 s/d 17.00 WIB )
Lama belajar                            :  18 jam dalam  seminggu.

     C.  KEADAAN SISWA

I  A
I  B
II
III
IV
Jumlah
L
P
J
L
P
J
L
P
J
L
P
J
L
P
J
L
P
J
29
21
50
22
20
42
16
18
34
21
19
40
6
25
31
94
103
197


D.    KEADAAN GURU

No.
N  A  M  A

L / P
Tanggal Lahir
Pendidikan
Jabatan

1.
ABDUL NASIR
L
Tegal, 03 -04 -1965
MAN Ponpes
KAMAD
2.
GUNTUR. AD, S.AG
L
Tegal, 05 -02 -1978
S. 1
GURU
3.
SITI MUNIROH, S.Pd.I
P
Tegal, 16- 03-1979
S. 1
Guru & Bendahara
4.
ABDUL ROZAK, S.Pd.I
L
Tegal, 08 -01 -1969
S. 1
Guru
5.
NOVITA.E S.Pd.I
P
Tegal, 05- 11-1998
S.1
Guru
6.
M.FADHIL, SPD
P
Tegal, 21-07-1994
S.1
Guru
7. MUHRONI L Tegal, SMP Penjaga

E.     SARANA
1. Luas Tanah                          :  748 M2
2. Luas Bangunan                   :  -+ 500 M2
3. Status tanah / Bangunan   :  Wakaf
4. Jumlah ruang Kelas            : 5 Unit
5. Jumlah ruang kantor          : 1 Unit
6. WC Guru dan Siswa            :  1 Unit
7. Tempat Parkir                      : Ada
8. Gudang                                  :  Ada